Kisah Nabi Ibrahim As Bagian 1
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kisah Nabi Ibrahim As Bagian 1 - Banyak yang mengatakan bahwa ketika Tarikh Ayahanda Nabi Ibrahim As berusia tujuh puluh lima tahun, Beliau memiliki 3 putra bernama Ibrahim As, Nahor dan Haran. Haran memiliki seorang putra bernama Luth As. Banyak juga mengatakan bahwa Nabi Ibrahim As adalah anak tengah dan bahwa Haran meninggal saat masih usia muda di tanah kelahirannya, tanah orang Kasdim atau yang dikenal juga sebagai Babylonia. Pada waktu itu beberapa orang menyembah berhala dari batu dan kayu, yang lain menyembah planet, bintang, matahari dan bulan, dan  yang lain lagi menyembah raja dan penguasa mereka.
$ads={1}

Silsilah Nabi Ibrahim As

Ibrahim As Bin Tarakh, Bin Nahur, Bin Saruj, Bin Ra'u, Bin Falij, Bin Abir, Bin Syalih, Bin Arfakhsyad, Bin Sam, Bin Nuh As, Bin Lamak, Bin Matusyalih, Bin Idris As, Bin Yarid, Bin Mahlil, Bin Qinan, Bin Anusy, Bin Syits, Bin Adam As.

Kelahiran dan Masa Muda Nabi Ibrahim As

Pada 2295 SM. Kerajaan Babilonia waktu itu diperintah oleh Namrudz, seorang raja bengis yang berkuasa secara absolut dan zalim. Kerajaan itu mendapat pertanda langka pada bintang-bintang bahwa akan ada seorang anak laki-laki perkasa lahir dan keturunannya akan memenuhi seisi bumi, dengan salah seorang keturunannya akan membunuh Namrudz.

Nabi Ibrahim As diberkahi dengan pemahaman spiritual sejak usia dini. Allah SWT mencerahkan hati dan pikirannya memberinya kebijaksanaan sejak kecil.

Allah SWT Berfirman :
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَاۤ اِبۡرٰہِیۡمَ رُشۡدَہٗ مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا بِہٖ عٰلِمِیۡنَ
Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui ( keadaan )nya. ( QS. Al Anbiyaa 21:51 )

Selama masa kecilnya, Nabi Ibrahim As menyadari bahwa ayahnya membuat patung-patung aneh. Suatu hari, dia bertanya kepadanya tentang apa yang dia buat. Ayahnya menjawab bahwa dia membuat patung Tuhan. Nabi Ibrahim As heran dan dia secara spontan menolak gagasan itu. Sebagai seorang anak ia bermain dengan patung-patung seperti duduk di punggung mereka ketika orang-orang duduk di punggung keledai dan bagal.

Suatu hari ayahnya melihat dia mengendarai patung Mardukh dan dia menjadi sangat marah. Dia memerintahkan putranya untuk tidak bermain dengannya lagi.

Nabi Ibrahim As bertanya : "Apa patung ini, ayah? Ia memiliki telinga yang besar, lebih besar dari milik kita."
Ayahnya menjawab, "Itu Mardukh, Tuhannya para Tuhan, Nak! Telinga besar ini menunjukkan pengetahuannya yang dalam."

Ini membuat Nabi Ibrahim As tertawa, usianya baru tujuh tahun saat itu.

Tahun demi tahun berlalu dan Nabi Ibrahim As tumbuh. Sejak masa kecilnya, hatinya penuh kebencian terhadap berhala ini. Dia tidak bisa mengerti bagaimana orang waras bisa membuat patung dan kemudian menyembah apa yang telah dia buat. Dia memperhatikan bahwa berhala-berhala ini tidak makan, minum atau berbicara dan mereka bahkan tidak dapat membalikkan tubuh mereka jika seseorang membalikkannya. Bagaimana, kemudian orang dapat percaya bahwa patung seperti itu dapat membahayakan atau menguntungkan mereka?

Kaum Nabi Ibrahim As memiliki sebuah kuil besar yang penuh berhala, di tengahnya terdapat relung yang menampung berhala-berhala terbesar yang memiliki jenis, kualitas, dan bentuk yang berbeda. Nabi Ibrahim As yang dulu pergi ke bait suci bersama ayahnya ketika dia masih kecil, sangat membenci semua kayu dan batu itu. Yang mengejutkannya adalah cara orang-orangnya berperilaku ketika mereka memasuki bait suci, mereka membungkuk dan mulai menangis, memohon dan memohon bantuan tuhan - tuhan mereka seolah para berhala dapat mendengar atau memahami permintaan ini!

Awalnya, pemandangan seperti itu tampak lucu bagi Nabi Ibrahim As, tetapi kemudian dia mulai merasa marah. Apakah tidak mengherankan bahwa semua orang itu bisa tertipu? Yang menambah masalah adalah bahwa ayahnya ingin dia menjadi seorang pendeta ketika dia dewasa.

Mencari Tuhan Yang Sesungguhnya

Pada suatu malam, Nabi Ibrahim As meninggalkan rumahnya untuk pergi ke gunung. Dia berjalan sendirian dalam gelap sampai dia memilih sebuah gua di gunung tempat dia duduk dan bersandar di dinding. Dia menatap langit. Dia hampir tidak pernah melihatnya ketika dia ingat bahwa dia sedang melihat planet dan bintang yang disembah oleh beberapa orang di bumi. Hati mudanya dipenuhi dengan rasa sakit yang luar biasa. Dia mempertimbangkan apa yang ada di luar bulan, bintang-bintang dan planet-planet  dan heran bahwa benda-benda langit ini disembah oleh manusia.

Allah SWT menceritakan kisah ini dalam Al Qur'an Surat Al An'aam Ayat 75 - 77 :

وَ کَذٰلِکَ نُرِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ مَلَکُوۡتَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لِیَکُوۡنَ مِنَ الۡمُوۡقِنِیۡنَ
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan ( Kami yang terdapat ) di langit dan bumi dan ( Kami memperlihatkannya ) agar dia termasuk orang yang yakin. ( QS. Al An'aam 6:75 )

فَلَمَّا جَنَّ عَلَیۡہِ الَّیۡلُ رَاٰ کَوۡکَبًا ۚ قَالَ ہٰذَا رَبِّیۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَ قَالَ لَاۤ اُحِبُّ الۡاٰفِلِیۡنَ
Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata : "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata : "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". ( QS. Al An 'aam 6:76 )

فَلَمَّا رَاَ الۡقَمَرَ بَازِغًا قَالَ ہٰذَا رَبِّیۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَ قَالَ لَئِنۡ لَّمۡ یَہۡدِنِیۡ رَبِّیۡ لَاَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡقَوۡمِ الضَّآلِّیۡنَ
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata : "Inilah Tuhanku".
Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata : "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat".  ( QS. Al An 'aam 6:77 )

Inilah daya logika yang Allah karuniakan untuk Nabi Ibrahim As sehingga ia menolak agama penyembahan langit yang sedang dipercayai kaumnya. Ibrahim pun menyadari bahwa Yang Mengendalikan bulan, bintang, matahari, siang dan malam; juga Yang Menciptakan seluruh makhluk di bumi adalah Tuhan yang sebenarnya.

Perselisihan Dengan Kaumnya

Allah SWT menceritakan kisah ini dalam Al Qur'an Surat Al An'aam Ayat 78 - 83 :

فَلَمَّا رَاَ الشَّمۡسَ بَازِغَۃً قَالَ ہٰذَا رَبِّیۡ ہٰذَاۤ اَکۡبَرُ ۚ فَلَمَّاۤ اَفَلَتۡ قَالَ یٰقَوۡمِ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّمَّا تُشۡرِکُوۡنَ
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata : "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata : "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.  ( QS. Al An 'aam 6:78 )

اِنِّیۡ وَجَّہۡتُ وَجۡہِیَ لِلَّذِیۡ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ حَنِیۡفًا وَّ مَاۤ اَنَا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. ( QS. Al An 'aam 6:79 )

وَ حَآجَّہٗ قَوۡمُہٗ ؕ قَالَ اَتُحَآجُّوۡٓنِّیۡ فِی اللّٰہِ وَ قَدۡ ہَدٰىنِ ؕ وَ لَاۤ اَخَافُ مَا تُشۡرِکُوۡنَ بِہٖۤ اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ رَبِّیۡ شَیۡئًا ؕ وَسِعَ رَبِّیۡ کُلَّ شَیۡءٍ عِلۡمًا ؕ اَفَلَا تَتَذَکَّرُوۡنَ
Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata : "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku". Dan aku tidak takut kepada ( malapetaka dari ) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu ( dari malapetaka ) itu.
Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran ( daripadanya ) ?
" ( QS. Al An 'aam 6:80 )

وَ کَیۡفَ اَخَافُ مَاۤ اَشۡرَکۡتُمۡ وَ لَا تَخَافُوۡنَ اَنَّکُمۡ اَشۡرَکۡتُمۡ بِاللّٰہِ مَا لَمۡ یُنَزِّلۡ بِہٖ عَلَیۡکُمۡ سُلۡطٰنًا ؕ فَاَیُّ الۡفَرِیۡقَیۡنِ اَحَقُّ بِالۡاَمۡنِ ۚ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ
Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan ( dengan Allah ), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan ( dari malapetaka ), jika kamu mengetahui? ( QS. Al An 'aam 6:81 )

اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ لَمۡ یَلۡبِسُوۡۤا اِیۡمَانَہُمۡ بِظُلۡمٍ اُولٰٓئِکَ لَہُمُ الۡاَمۡنُ وَ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman ( syirik ), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. ( QS. Al An 'aam 6:82 )

وَ تِلۡکَ حُجَّتُنَاۤ اٰتَیۡنٰہَاۤ اِبۡرٰہِیۡمَ عَلٰی قَوۡمِہٖ ؕ نَرۡفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنۡ نَّشَآءُ ؕ اِنَّ رَبَّکَ حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.
Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. ( QS. Al An 'aam 6:83 )

Dalam debat itu, Nabi Ibrahim As menjelaskan kepada kaumnya bahwa benda-benda langit ini tidak berfungsi sebagai tuhan dan tidak dapat disembah. Memang tubuh ini adalah sesuatu yang diciptakan, dibentuk, dikendalikan, dikelola, dan dibuat untuk melayani. Terkadang mereka muncul dan menghilang pada orang lain. Namun, Allah SWT tidak melupakan apa pun, dan tidak ada yang bisa disembunyikan dari-Nya. Karena Dia yang kekal abadi tanpa akhir. Tiada Tuhan selain Allah.

Nabi Ibrahim As menjelaskan kepada mereka.

  1. Pertama bahwa benda-benda langit tidak layak disembah.
  2. Kedua bahwa mereka adalah di antara tanda-tanda Allah.

Allah SWT Berfirman :


وَ مِنۡ اٰیٰتِہِ الَّیۡلُ وَ النَّہَارُ وَ الشَّمۡسُ وَ الۡقَمَرُ ؕ لَا تَسۡجُدُوۡا لِلشَّمۡسِ وَ لَا لِلۡقَمَرِ وَ اسۡجُدُوۡا لِلّٰہِ الَّذِیۡ خَلَقَہُنَّ اِنۡ کُنۡتُمۡ اِیَّاہُ تَعۡبُدُوۡنَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.
Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah. ( QS. Al Fushshilat 41:37 )

Alasan Nabi Ibrahim As adalah membantu untuk mengungkapkan kebenaran, dan kemudian konflik antara dia dan kaumnya dimulai karena para penyembah bintang dan planet tidak bisu. Mereka mulai berdebat dan mengancam Nabi Ibrahim As.

Perselisihan ini Allah SWT abadikan dalam Al Qur'an dalam Surat Al An 'aam Ayat 80 - 82 :

وَ حَآجَّہٗ قَوۡمُہٗ ؕ قَالَ اَتُحَآجُّوۡٓنِّیۡ فِی اللّٰہِ وَ قَدۡ ہَدٰىنِ ؕ وَ لَاۤ اَخَافُ مَا تُشۡرِکُوۡنَ بِہٖۤ اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ رَبِّیۡ شَیۡئًا ؕ وَسِعَ رَبِّیۡ کُلَّ شَیۡءٍ عِلۡمًا ؕ اَفَلَا تَتَذَکَّرُوۡنَ
Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata : "Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku". Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu ( dari malapetaka ) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran ( daripadanya )?" ( QS. Al An 'aam 6:80 )

وَ کَیۡفَ اَخَافُ مَاۤ اَشۡرَکۡتُمۡ وَ لَا تَخَافُوۡنَ اَنَّکُمۡ اَشۡرَکۡتُمۡ بِاللّٰہِ مَا لَمۡ یُنَزِّلۡ بِہٖ عَلَیۡکُمۡ سُلۡطٰنًا ؕ فَاَیُّ الۡفَرِیۡقَیۡنِ اَحَقُّ بِالۡاَمۡنِ ۚ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ
Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? ( QS. Al An 'aam 6:81 )

اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ لَمۡ یَلۡبِسُوۡۤا اِیۡمَانَہُمۡ بِظُلۡمٍ اُولٰٓئِکَ لَہُمُ الۡاَمۡنُ وَ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman ( syirik ), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. ( QS. Al An 'aam 6:82 )

Situasi berikutnya mengungkapkan kelompok kedua, mereka yang sedang berlatih penyembahan berhala. Allah SWT memberi Nabi Ibrahim As alasan mengapa ia membutuhkan alasan dalam setiap kali ia berdebat dengan kaumnya.

Allah SWT Berfirman :
وَ تِلۡکَ حُجَّتُنَاۤ اٰتَیۡنٰہَاۤ اِبۡرٰہِیۡمَ عَلٰی قَوۡمِہٖ ؕ نَرۡفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنۡ نَّشَآءُ ؕ اِنَّ رَبَّکَ حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.
Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. ( QS. Al An 'aam 6:83 )

Nabi Ibrahim As melakukan yang terbaik untuk membuat kaumnya memperhatikan kepercayaan pada keesaan Allah SWT dan hanya untuk menyembah DIA saja. Dia meminta mereka dengan tegas untuk meninggalkan penyembahan berhala.

Dakwah Nabi Ibrahim As

Allah SWT menceritakan kisah ini dalam Al Qur'an Surat Al Anbiyaa Ayat 52 - 56 :

اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا ہٰذِہِ التَّمَاثِیۡلُ الَّتِیۡۤ اَنۡتُمۡ لَہَا عٰکِفُوۡنَ
(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya : "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" ( QS. Al Anbiyaa 21:52 )

قَالُوۡا وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا لَہَا عٰبِدِیۡنَ
Mereka menjawab : "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya".  ( QS. Al Anbiyaa 21:53 )

قَالَ لَقَدۡ کُنۡتُمۡ اَنۡتُمۡ وَ اٰبَآؤُکُمۡ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ
Ibrahim berkata : "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata". ( QS. Al Anbiyaa 21:54 )

قَالُوۡۤا اَجِئۡتَنَا بِالۡحَقِّ اَمۡ اَنۡتَ مِنَ اللّٰعِبِیۡنَ
Mereka menjawab : "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" ( QS. Al Anbiyaa 21:55 )

قَالَ بَلۡ رَّبُّکُمۡ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ الَّذِیۡ فَطَرَہُنَّ ۫ۖ وَ اَنَا عَلٰی ذٰلِکُمۡ مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ
Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya : dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu". ( QS. Al Anbiyaa 21:56 )

Nabi Ibrahim As pertama kali berdakwah yakni kepada ayahnya, karena Nabi Ibrahim As merasa bahwa adalah tugasnya sebagai anak yang baik untuk menasihati ayahnya dari kesesatan, sehingga ia dapat diselamatkan dari hukuman Allah SWT.

Menjadi anak yang bijak ia tidak membuat ayahnya merasa bodoh, juga tidak secara terbuka menertawakan tingkah lakunya. Dia mengatakan kepadanya bahwa dia mencintainya. Kemudian dia dengan lembut bertanya kepada ayahnya mengapa dia menyembah berhala  yang tidak bisa mendengar, melihat atau melindunginya?

Sebelum ayahnya menjadi marah Nabi Ibrahim As menambahkan kata - kata berikut yang di abadikan dalam Al Qur'an Surat Maryam Ayat 43 - 45 :

یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡ قَدۡ جَآءَنِیۡ مِنَ الۡعِلۡمِ مَا لَمۡ یَاۡتِکَ فَاتَّبِعۡنِیۡۤ اَہۡدِکَ صِرَاطًا سَوِیًّا
Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.  ( QS. Maryam 19:43 )

یٰۤاَبَتِ لَا تَعۡبُدِ الشَّیۡطٰنَ ؕ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ عَصِیًّا
Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. ( QS. Maryam 19:44 )

یٰۤاَبَتِ اِنِّیۡۤ اَخَافُ اَنۡ یَّمَسَّکَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحۡمٰنِ فَتَکُوۡنَ لِلشَّیۡطٰنِ وَلِیًّا
Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan". ( QS. Maryam 19:45 )

Kemudian sang ayah berkata :
قَالَ اَرَاغِبٌ اَنۡتَ عَنۡ اٰلِہَتِیۡ یٰۤـاِبۡرٰہِیۡمُ ۚ لَئِنۡ لَّمۡ تَنۡتَہِ لَاَرۡجُمَنَّکَ وَ اہۡجُرۡنِیۡ مَلِیًّا
Berkata bapaknya : "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama". ( QS. Maryam 19:46 )

Kemudian Nabi Ibrahim As menjawab :
قَالَ سَلٰمٌ عَلَیۡکَ ۚ سَاَسۡتَغۡفِرُ لَکَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ بِیۡ حَفِیًّا
Berkata Ibrahim : "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. ( QS. Maryam 19:47 )

وَ اَعۡتَزِلُکُمۡ وَ مَا تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ اَدۡعُوۡا رَبِّیۡ ۫ۖ عَسٰۤی اَلَّاۤ اَکُوۡنَ بِدُعَآءِ رَبِّیۡ شَقِیًّا
Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku".  ( QS. Maryam 19:48 )

Perlakuan keras ayahnya tidak menghentikan Nabi Ibrahim As untuk menyampaikan pesan kebenaran. Marah dan sedih melihat kaumnya bersujud di hadapan berhala, dia bertekad untuk menghapuskan praktik-praktik ini dan kemudian Nabi Ibrahim As pergi ke kota untuk berdebat dengan orang-orang yang tahu betul bahwa dia mungkin menderita kerugian.

Seperti dokter yang bijak yang mencari penyebab penyakit agar bisa meresepkan obat yang tepat, atau seperti hakim yang menanyai terdakwa dengan tajam sehingga dia bisa mendeteksi kebenaran. Nabi Ibrahim As bertanya kepada mereka: "Apakah berhala melihatmu ketika kamu sujud di hadapan mereka? Apakah mereka menguntungkan kamu dengan cara apa pun." Mereka dengan cepat berusaha mempertahankan kepercayaan mereka. Mereka berpendapat bahwa mereka tahu berhala-berhala itu tidak bernyawa tetapi nenek moyang mereka telah menyembah mereka; Bagi mereka ini adalah bukti yang cukup untuk kepercayaan mereka.

Nabi Ibrahim As menjelaskan bahwa leluhur mereka salah. Penjelasan ini membuat mereka marah dan mereka menjawab, "Apakah kamu mengutuk para tuhan dan leluhur kami? Atau apakah kamu hanya bercanda?"

Nabi Ibrahim As tidak menunjukkan rasa takut ketika dia menjawab : "Aku serius. Aku datang kepadamu dengan agama yang benar. Aku telah diutus dengan bimbingan dari Tuhan kita sajalah Yang layak disembah, DIA adalah Pencipta langit dan bumi, dan Siapa yang mengatur semua urusan kehidupan, tidak seperti berhala-berhala bodoh yang hanya terbuat dari batu dan kayu. "

Untuk meyakinkan mereka bahwa berhala-berhala itu tidak dapat melukainya, dia menantang : "Aku telah mengutuk mereka, mereka tidak memiliki kekuatan apa pun yang dapat  melukaiku sekarang!"

Dan kisah ini Allah SWT abadikan saat Nabi Ibrahim As menyaikan kebenaran kepada ayah dan kaumnya, dalam Al Qur'an Surat Asy Syu'ara Ayat 69 - 82 :

وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ اِبۡرٰہِیۡمَ
Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim.  ( QS. Asy Syu'ara 26:69 )

اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَا تَعۡبُدُوۡنَ
Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya : "Apakah yang kamu sembah?" ( QS. Asy Syu'ara 26:70  )

قَالُوۡا نَعۡبُدُ اَصۡنَامًا فَنَظَلُّ لَہَا عٰکِفِیۡنَ
Mereka menjawab : "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya". ( QS. Asy Syu'ara 26:71 )

قَالَ ہَلۡ یَسۡمَعُوۡنَکُمۡ اِذۡ تَدۡعُوۡنَ
Berkata Ibrahim : "Apakah berhala-berhala itu mendengar ( doa )mu sewaktu kamu berdoa  (kepadanya )?, ( QS. Asy Syu'ara 26:72 )

اَوۡ یَنۡفَعُوۡنَکُمۡ اَوۡ یَضُرُّوۡنَ
atau ( dapatkah ) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?" ( QS. Asy Syu'ara 26:73 )

قَالُوۡا بَلۡ وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا کَذٰلِکَ یَفۡعَلُوۡنَ
Mereka menjawab : "( Bukan karena itu ) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian".  ( QS. Asy Syu'ara 26:74 )

قَالَ اَفَرَءَیۡتُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ تَعۡبُدُوۡنَ
Ibrahim berkata : "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, ( QS. Asy Syu'ara 26:75 )

اَنۡتُمۡ وَ اٰبَآؤُکُمُ الۡاَقۡدَمُوۡنَ
kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?,  ( QS. Asy Syu'ara 26:76 )

فَاِنَّہُمۡ عَدُوٌّ لِّیۡۤ اِلَّا رَبَّ الۡعٰلَمِیۡنَ
karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam,  ( QS. Asy Syu'ara 26:77 )

الَّذِیۡ خَلَقَنِیۡ فَہُوَ یَہۡدِیۡنِ
( yaitu Tuhan ) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, ( QS. Asy Syu'ara 26:78 )

وَ الَّذِیۡ ہُوَ یُطۡعِمُنِیۡ وَ یَسۡقِیۡنِ
dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,  ( QS. Asy Syu'ara 26:79 )

وَ اِذَا مَرِضۡتُ فَہُوَ یَشۡفِیۡنِ
dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, ( QS. Asy Syu'ara 26:80 )

وَ الَّذِیۡ یُمِیۡتُنِیۡ ثُمَّ یُحۡیِیۡنِ
dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku ( kembali ), ( QS. Asy Syu'ara 26:81 )

وَ الَّذِیۡۤ اَطۡمَعُ اَنۡ یَّغۡفِرَ لِیۡ خَطِیۡٓئَتِیۡ یَوۡمَ الدِّیۡنِ
dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat". ( QS. Asy Syu'ara 26:82 )

Dalam surat lain Allah SWT Berfirman :

وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۙ وَّ اَنَّ اللّٰہَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یُّرِیۡدُ
Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al Quran yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. ( QS. Al Hajj 22:16 )

اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ الَّذِیۡنَ ہَادُوۡا وَ الصّٰبِئِیۡنَ وَ النَّصٰرٰی وَ الۡمَجُوۡسَ وَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡۤا ٭ۖ اِنَّ اللّٰہَ یَفۡصِلُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. ( QS. Al Hajj 22:17 )

اَلَمۡ تَرَ اَنَّ اللّٰہَ یَسۡجُدُ لَہٗ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ وَ الشَّمۡسُ وَ الۡقَمَرُ وَ النُّجُوۡمُ وَ الۡجِبَالُ وَ الشَّجَرُ وَ الدَّوَآبُّ وَ کَثِیۡرٌ مِّنَ النَّاسِ ؕ وَ کَثِیۡرٌ حَقَّ عَلَیۡہِ الۡعَذَابُ ؕ وَ مَنۡ یُّہِنِ اللّٰہُ فَمَا لَہٗ مِنۡ مُّکۡرِمٍ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَفۡعَلُ مَا یَشَآءُ
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. ( QS. Al Hajj 22:18 )

ہٰذٰنِ خَصۡمٰنِ اخۡتَصَمُوۡا فِیۡ رَبِّہِمۡ ۫ فَالَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا قُطِّعَتۡ لَہُمۡ ثِیَابٌ مِّنۡ نَّارٍ ؕ یُصَبُّ مِنۡ فَوۡقِ رُءُوۡسِہِمُ الۡحَمِیۡمُ
Inilah dua golongan ( golongan mukmin dan golongan kafir ) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. ( QS. Al Hajj 22:19 )

یُصۡہَرُ بِہٖ مَا فِیۡ بُطُوۡنِہِمۡ وَ الۡجُلُوۡدُ
Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit ( mereka ). ( QS. Al Hajj 22:20 )

وَ لَہُمۡ مَّقَامِعُ مِنۡ حَدِیۡدٍ
Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. ( QS. Al Hajj 22:21 )

کُلَّمَاۤ اَرَادُوۡۤا اَنۡ یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا مِنۡ غَمٍّ اُعِیۡدُوۡا فِیۡہَا ٭ وَ ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ
Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. ( Kepada mereka dikatakan ), "Rasailah azab yang membakar ini". ( QS. Al Hajj 22:22 )

اِنَّ اللّٰہَ یُدۡخِلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ؕ وَ لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ
Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. ( QS. Al Hajj 22:23 )

Nabi Ibrahim As menjelaskan kepada mereka keindahan ciptaan Allah SWT, kekuatan dan kebijaksanaan-Nya. Penyembahan berhala dibenci oleh Allah karena Allah adalah Tuhan semesta alam yang menciptakan umat manusia, membimbingnya dan memberinya makanan dan minuman dan menyembuhkannya ketika  sakit dan Siapa yang akan menyebabkan dia mati dan dibangkitkan kembali. Namun, mereka tidak akan menyerah tetapi malah tetap berpegang teguh pada penyembahan berhala.

Untuk kelanjutan kisahnya ada di artikel yang berjudul "Kisah Nabi Ibrahim As Bagian 2". Semoga bermanfaat. Terimakasih Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Penulis : Sainah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama